Lokasi : teras depan Zeal Girl 2 camp, Pare, Kediri
Sekitar pukul 19.30 WIB pada akhir bulan Maret 2012.
Potongan percakapanku dengan seorang teman..
Samhan: "Na, new comer yaa?" sambil memandangi seorang cewe berkaos ungu dengan rok panjang sampai d mata kaki sedang membawa tas plastik hitam yang entah apa isinya yang baru saja lewat di depan kami.
Aku: "iya, new comer."
Samhan: "darimana? kok kayak jutek gitu siih?"
Aku: "ahahahaa.. gak tau. aku belom kenalan."
Malam itu ia lewat begitu saja di depan kami tanpa sapaan basa-basi atau sedikit senyum bersahabat. mungkin malu atau canggung kali, yaa namanya juga new comer, pikirku. Kalau dilihat pertama kali dari wajahnya waktu itu, semua orang akan menangkap kesan "jutek" darinya. Dan menurutku Bang Samhan nggak salah menilainya kayak gitu ahahahaa.
Malam itu bukan kali pertama aku melihatnya. Kalau tidak salah, sudah tiga hari ia bergabung dalam keluarga Zeal. Tapi, sampai saat itu aku sama sekali tak tau namanya dan belum berkenalan dengannya.
Belakangan baru aku tau, ternyata namanya Cuncun...sodara sodara sekalian.
Aku ingat hari pertama kedatangannya di Zeal Girl Camp. Aku sedang bersiap-siap berangkat ke salah satu lembaga kursus bahasa inggris. Aku berdiri di teras depan yang persis menghadap langsung ke gerbang. waktu itu, ia datang bersama seorang temannya dengan menumpang pada jasa angkutan umum tradisional, 'becak'.
Tak lama setelah menyelesaikan segala administrasi dengan si tukang becak, temannya yang berperawakan tinggi, kurus dan terlihat ramah itu menghampiriku..
"Ini benar Zeal Girl Camp 2 kan? miss Emi-nya ada?" tanya cewe yang terlihat ramah itu
"Oo..iya. miss Emi ada di dalam. Langsung masuk aja. New comer yaa?" Kataku sambil tersenyum
"Iya".jawabnya sambil membalas senyumanku
"Langsung dimasukin aja kopernya, miss" kataku sambil berjalan pergi.
Tidak seperti temannya yang terlihat ramah. Beda cerita saat pertama kali melihat Cuncun, dari wajahnya ia terlihat cuek dan agak keras. Saat itu ia cukup kelimpungan ngurusin barangnya yang lumayan banyak. Kami tak sempat bertegur sapa, apalagi berkenalan.
Singkat cerita....
Day by day, aku semakin dekat dengan nya.
Tunggu...
Saya pikir cerita tentang pertama kali aku bertemu dengannya cukup sampai disini. Aku yakin orang yang bersangkutan, sudah tidak mengingatnya lagi.
Lanjuuuttt......
Ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.
| liatin apa kak? serius amat... |
OK..secara resmi aku memperkenalkan teman baruku itu namanya Asnawati Tandjung (bener g sih??) akrab di
panggil cuncun (Asnawati = Cuncun. Ok, jangan menanyakan asal nama Cuncun..bisa panjang cerita), asli Padang, berperawakan kecil-mungil dan montok. Selalu benci jika di panggil Asnawati. Ketika ditanya alasanya, dia hanya bilang "pokoknya gak boleh. Aku kan
ngenalin nama aku ke kalian Cuncun" sambil marah-marah, yang di ikuti
gelak tawa geli para penonton hahahaa.. Ya udah deehh... Apa siih yang enggak
buat kamu kak ^,^
Bagiku ia bukan hanya sekedar teman, tetapi sahabat dan juga kakak. Yang aku tau.. Dia itu baik, perhatian, nyenengin, cerewet minta ampun, rame *dimanapun dia berada, bawel, ribet, tukang ngambek, penggila warna ungu dan punya suara serak-serak becek gitu (yang kalo kata gilang suaranya mirip Hyoyeon SNSD) ahahaa ada-ada aja.
Tentu saja kita membuat banyak cerita selama hidup bersama di Pare. Semua terekam jelas di dalam memori otakku yang kapasitasnya melibihi hard disk ukuran 1 yottabyte sekalipun.
Sesuai dengan karakternya dari sudut pandang aku.. yang telah di paparkan di atas, tak jarang banyak kejadian yang membuatku takjub "kok ada ya orang rempong kayak dia?". Mulai dari cerita pengen berkeliling Pare naik odong-odong, tapi odong-odong yang di tunggu tak kunjung lewat, yang membuat aku dan Gilang mendadak menjadi mama-papa yang sedang ngebujuk anaknya yang rewel minta naik odong-odong. Cerita ice cream made in Gilang di bawah pohon gersen Bu Tin, yang kata kak cuncun kolaborasi aneh antara tekstur ice cream yang lembut dan biskuit yang renyah-renyah garing, dan hampir membuatnya muntah. Tidak hanya itu, ada juga cerita saat makan di Wisata Jamur (salah satu rumah makan di kota Pare). Kalau tidak salah kak cuncun memesan ayam bakar. Dan benar saja, sesuai pesanan (paha) ayam bakar, melihat pesanan makanan yg datang sontak membuat naluri alamiahnya sebagai tante bawel muncul. "aku g suka makan paha ayam. Pokoknya gak mau makan". Lagi-lagi, kami si anak ababil ini harus berurusan dengannya, memutar otak gimana caranya biar si tante bawel ini makan.
| kak cuncun and Me |
Seperti yang aku katakan sebelumnya, dia adalah sahabat dan juga kakak. jujur saja, aku selalu kangen saat dia bilang, "dasar anak kecil" atau "hati-hati.. Na. Jangan ngawur bawa sepedanya, entar nabrak lagi". Sesederhana itu.. Yah,, kata-katanya sesederhana itu. Tapi, aku selalu senang mendengarnya, berasa punya kakak sungguhan.
![]() |
| kena omelan tante-tante deh.. |
![]() |
| ini juga |
betapa perhatiannya kakakku yang satu ini.. jadi terharu hiks hiks hiks..
"Senang bisa bisa mengenalmu Kak. Kau mengajariku sabar dengan kebawelanmu, mengajariku menjadi seorang kakak yang baik buat adik-adikku dengan caramu memperlakukanku, dan mengajariku ikhlas dengan semua nesehat-nasehatmu".
It's so good to have you around








