beberapa hari yang lalu, aku menelepon sahabatku. bukan tanpa maksud, disamping aku merindukannya, aku juga ingin menumpahkan segala kegundahanku selama beberapa minggu belakangan. dia adalah satu-satunya tempat yang ku tuju disaat gundah (lebay aahh). aku selalu merasa lebih baik, mendengar segala masukan-masukannya. (pendapat penulis: seharusnya dia mengambil jurusan psikologi , bukannya kebidanan *apasiihh na.. g penting deh!!).
penggalan percakapanku dengannya :
Aku : nda, udah baca postingan terakhirku belum?
Dinda : udah.. kenapa?
Aku : menurutmu kenapa yaa.. aku kok bisa merasa kosong kayak gitu? aku punya teman, tapi merasa sendiri. punya kesibukkan, tapi merasa bosan. aku tak bisa merasakan apa-apa. aku bosan dengan semuanya.
Dinda : kamu kurang bersyukur dengan apa yang kamu punya sekarang. itu jawabannya.
Nana : eehh?? *sambil berpikir
mendengar jawabannya, sontak aku pun kaget. apa iya? tentu saja pertanyaan itu tertuju padaku. setelah selesai berbincang-bincang dengannya via telepon, aku pun tak bisa untuk tidak membiarkan diriku berpikir. lalu, muncul pertanyaan seperti.. apa yang sedang kau cari? sudahkah kau bersyukur dengan apa yang kau punya?
kemudian aku teringat sebuah buku yang pernah ku baca. di dalam buku itu disebutkan bahwa, "mengapa orang tidak merasa bahagia? karena, mereka menentukan standar kebahagiaannya terlalu tinggi. mulai sekarang cobalah untuk berbahagia pada hal-hal yang sederhana. mulailah dengan menentukan syarat-syarat kebahagiaan semudah mungkin misalnya; dengan tersenyum saat membaca buku, ataupun ketika mendengarkan musik, ataupun ketika menyantap makanan enak. ada satu lagi syarat mudah yang mungkin saat ini kurang kita sadari bahwa "kebahagian terbesar" dalam hidup adalah ketika kita bisa, maaf, membuang air besar pada saat yang tepat dan ditempat yang tepat. iya, gak?" (Love You-Vidi Yulius Sunandar).
dengan penjabaran diatas, sedikit merubah persepsiku tentang bahagia. selama ini ada banyak hal yang tidak aku sadari. orang-orang disekitarku, kehidupanku, bahkan dunia yang menurutku paling tidak adil ini, memberikan sejuta alasan untuk berbahagia. itu semua tergantung pada pemaknaannya, bukan?
merasa tidak bahagia merupakan suatu kekerasan verbal terhadap diri sendiri. nah.. aku memutuskan untuk berhenti berbuat jahat pada diriku. "sesungguhnya, kebahagiaan adalah suatu hal yang kau ciptakan atas suatu penerimaan. bersyukurlah, maka kau akan bahagia" gumamku.





0 komentar:
Posting Komentar